Miris, Harga Sawit di Pessel Anjlok Sampai Rp400 Per Kilogram

(KLIKPOSITIF/ Kiki Julnasri)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Pasca lebaran, harga komoditi tadan buah segar (TBS) Sawit di Kabupaten Pesisir Selatan kembali anjlok. Harga sawit di daerah ini anjlok mencapai Rp500 hingga Rp400 per-kilogram.

Para petani mengaku, kondisi ini sudah terjadi sejak awal memasuki Ramdan tahun 2019 ini, harganya turun dari sebelumnya yang sempat pada harga Rp800 dan Rp700 per-kilogram.

baca juga: Nissan Tutup Pabrik Mobil di Indonesia, Rizal Ramli: Kok Malah Kabur?

"Lebaran ini turunnya sangat jauh, dari Rp800 perkilo sekarang hanya Rp400 perkilo," ungkap Harlan (20) salah seorang petani sawit di Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara-Lengayang kepada KLIKPOSITIF .

Ia mengaku, turun naiknya harga TBS didaerah ini membuat petani menjadi dilema. Sebab, ongkos produksi dan biaya perawatan kebun jauh tidak sebanding.

baca juga: Pertanyakan Tujuan Pemerintah, Epidemiolog UI: Semua Pabrik Vaksin Didatangi, Mau Buka Toko?

"Belum lagi untuk biaya perawatan pupuknya. Upah produksi juga harus dikeluarkan," terangnya.

Ia menyebutkan, untuk terkahir ini hasil panen yang meraka raup sejak awal Ramadan hingga lebaran ini, hanya Rp400 ribu hingga Rp500 ribu satu ton.

baca juga: Uji Materi UU Cipta Kerja, Sekjen MUI: Masyarakat Tidak "Buta", MK Harus Buktikan Lembaganya Independen

"Tidak ada pilihan lai, karena sudah telanjur ditanam tentu tidak mungkin disia-siakan. Apalagi saat ini ekonomi sulit," ujarnya.

Senada dengan Harlan, petani lain Sari (28) dengan turun naiknya TBS ini, ia berharap Pemkab bisa mencarikan solusi yang tepat, apalagi turun naiknya harga TBS hampir belum ada solusi.

baca juga: Awal Pekan Harga Emas Batangan Turun Tipis

"Kalau bisa ada standarnya, biar kami (petani) bisa sedikit legah. Karena sejauh ini harganya terus ditekan," tutupnya.

Terpisah, anggota DPRD Dapil Sutera-Lengayang Pessel , Zarfi Deson mengingikan agar Pemkab setempat bisa mencari solusi yang tepat. Setidaknya bisa menentukan harga yang sebanding dengan daerah lain.

"Kita mendorong agar pemerintah bisa menghadirkan asosiasi petani sawit di Pessel . Karena, setau saya di Pessel belum ada asosiasi untuk menjembatani masyarakat," ujarnya.

Lanjutnya, anjloknya harga sawit di daerah bukan, untuk saat ini saja. Tetapi sudah sejak lama dan menjadi keluhan mendasar para petani.

"Ini hampir setiap saat masyarakat mengeluh. Setidaknya, dengan asosiasi Pemkab bisa membuat kebijakan dengan perusahaan yang ada," tutupnya. (Kiki Julnasri)

Penulis: Eko Fajri